• TRENDING
  • The Skywalker Saga
  • Elden Ring Boss
  • Sonic Frontiers PS 5
  • Deathloop Gameplay
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Font ResizerAa
  • Berita Game
  • Game Populer
  • Jadwal Esports
  • Tips & Panduan
Search
  • Berita Game
  • Game Populer
  • Jadwal Esports
  • Tips & Panduan
Have an existing account? Sign In
Follow US
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Blog » Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging untuk Android?
Berita Game

Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging untuk Android?

jaya wardana
Last updated: May 24, 2026 2:24 pm
jaya wardana
Share
6 Min Read
SHARE

mengapa banyak protokol fast – Protokol fast charging – Pengguna Android pasti sadar kalau setiap brand HP memiliki tipe fast charging mereka sendiri. Mulai dari Xiaomi kini ada HyperCharge, Oppo punya SuperVOOC, Vivo dengan Flash Charge, dan Samsung dengan Super Fast Charging.

Tapi mengapa setiap brand harus memiliki protokol pengecasannya sendiri, mengapa tidak ada satu protokol universal yang bisa digunakan semuanya? Jawabannya ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Mari kita bahas di artikel kali ini.

Daftar isi

  • Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging di Android?
    • Trik yang Berbeda dari USB-PD
    • Sarana Membangun Ekosistem Mini
    • Kesimpulan

Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging di Android?

protokol fast charging
Kok bisa ada banyak protokol berbeda?

Selain itu, sebenarnya standarisasi pengecasan dari USB sendiri sudah tersedia lewat kehadiran USB-PD (Power Delivery). Standar ini jauh lebih fleksibel dan membolehkan perangkat bernegosiasi untuk menarik daya tertentu sesuai kebutuhan mereka. Sebagai contoh, rentang daya yang USB-PD sediakan bisa dimulai dari 5W sampai 240W tergantung perangkat.

Lalu dengan tingkat flesibilitas yang baik, mengapa masih banyak brand smartphone Android yang tetap menggunakan protokol proprietary seperti yang sudah kita bahas tadi? Jawabannya ada berbagai lapis.

Pertama, brand sebenarnya pernah berada di fase berlomba-lomba siapa yang bisa menyajikan pengisian daya tercepat. Jika saat ini brand tengah berlomba menambahkan kapasitas baterai, maka beberapa tahun lalu, para vendor sedang fokus untuk menaikkan kecepatan pengisi. Maka brand mulai bisa menaikkan kemampuan pengecasan yang naik dari 35W menjadi 45W. Lalu menyusul ke 65W dan lalu tembus 100W. Bahkan beberapa model Android ada yang bisa mencapai angka 200W.

Di sisi lain, tetapi, untuk

Di sisi lain, tetapi, untuk mencapai kecepatan pengecasan luar biasa ini, tidak bisa bergantung pada standar umum seperti USB Power Delivery. Vendor smartphone merasa lebih nyaman menggunakan protokol proprietary dimana mereka bisa mengatur berapa kuat arus, voltase, hingga seberapa panas yang dihasilkan selama proses pengisian daya.

Belum lagi karena fleksibilitasnya tersebut, berarti USB-Power Delivery harus mendukung berbagai perangkat. Sehingga sulit rasanya bagi brand smartphone untuk mendongkrak kecepatan semau mereka. Mereka harus menunggu pihak USB menambahkan standar baru jika ingin melampaui batas yang sudah ada.

Trik yang Berbeda dari USB-PD

Image
Kabel harus khusus?

Salah satu alasan mengapa smartphone bisa mengisi daya dengan cepat adalah pendekatan berbasis Ampere. Berbeda dengan USB-PD yang lebih fokus menaikkan atau menurunkan Voltase, kebanyakan protokol proprietary lebih main di Ampere yang bisa berubah-ubah.

Namun, trik seperti ini biasanya membutuhkan kabel khusus yang mendukung Ampere tinggi. Misalkan saja, charger dari brand Xiaomi sendiri menyediakan kabel dengan 3A yang pada saat itu sulit untuk menemukan spesifikasi yang sama di brand third-party. Jadi, ketika pengguna mengganti kabel charger bawaan, biasanya kecepatan pengecasan akan turun drastis. Sebab, kabel baru tidak dapat mengantarkan arus sebesar 3 Ampere.

Meski kini USB-PD sudah mengejar dengan penghadirkan protokol pendukung PPS (programmable Power Supply), tetap saja brand hanya sekedar mengimplementasikan fitur tersebut tanpa ada dukungan penuh. Pasalnya, mereka sudah lebih kenal dan nyaman dengan protokol sendiri yang sudah dikembangkan dengan biaya tidak murah pula.

Sarana Membangun Ekosistem Mini

Image
Sekalian jualan aksesori

Salah satu alasan lain mengapa brand masih pakai protokol bawaan adalah tidak lain karena ia bisa jadi lahan cuan yang cukup menggiurkan. Dengan mengunci metode pengecasan berbasis kabel atau batok bawaan, maka begitu aksesori tersebut rusak, pengguna akan kembali membeli suku cadang original.

Menariknya, trik ini memang terkenal jitu untuk mengembalikan pembeli meski transaksi jual-beli telah usai. Pengguna yang menginginkan pengecasan ngebut seperti biasanya mau tidak mau harus membeli charger original. Harganya juga terpatok tidak murah terutama untuk tipe dengan kecepatan tinggi.

Karena itu pula brand tidak mau berganti ke standar protokol lain dalam sekejap mata. Selain mereka harus menjaga ekosistem yang sudah digunakan ratusan juta pengguna, penjualan aksesori seperti ini juga menjadi ladang cuan dengan profit tidak sedikit.

Secara kemampuan teknis, tiap brand

Secara kemampuan teknis, tiap brand chip pun mau unjuk gigi. Misalkan saja, Qualcomm mengenalkan Quick Charge, sedangkan MediaTek punya Pump Express, dan Samsung dengan Fast Charging.

Kesimpulan

Perlu diketahui, jadi, apakah standar protokol proprietary akan terus bertahan? Sayangnya iya. Mengingat belum ada regulasi global yang mengatur kalau brand tidak diizinkan mengunci ekosistem pengecasan mereka, rasanya kita akan tetap melihat nama-nama seperti SuperVOOC, FlashCharge, dan sejenisnya pada tiap brand.

Gimana menurut kamu? Apakah kamu termasuk yang setuju dengan banyaknya protokol pengecasan seperti ini? Atau sebaiknya hanya ada satu saja protokol universal biar tidak ribet?


Dapatkan informasi keren di FivaGame terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari JayaWardana. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].

Tags: android

Sumber: FivaGame

Contents
  • Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging di Android?
    • Di sisi lain, tetapi, untuk
    • Trik yang Berbeda dari USB-PD
    • Sarana Membangun Ekosistem Mini
    • Secara kemampuan teknis, tiap brand
    • Kesimpulan
“Roommates, Romance, and Ringing Hearts” Hadirkan Drama Jepang Interaktif ke Steam
7 Game Mabar Spesial Liburan Saat Kumpul Lebaran Bersama Keluarga Tahun 2026
ByteDance Telah Setuju Menjual Moonton ke Perusahaan Asal Arab Saudi
Pemain Arknights: Endfield Buat Jalur ala Transmutation Circle dari Fullmetal Alchemist
Menjajal Granblue Fantasy: Relink – Endless Ragnarok CBT
TAGGED:android
Share This Article
Facebook Email Print

New Releases

- Advertisement -
Ad image

Trending Stories

Berita Game

[Rumor] Jadwal Rilis The Elder Scrolls VI Masih Sangat Jauh untuk Saat Ini

May 27, 2026
Berita Game

Epic Games Pamerkan Unreal Engine 6 dari Rocket League, Visualnya Ciamik!

May 27, 2026
Berita Game

AI Drivatar BowieKnife99 Forza Horizon 6 Mulai Jadi Target Balas Dendam Player Dalam Game

May 27, 2026
Berita Game

Running Train, Game Simulator Buatan Developer Mojokerto Viral di Jepang!

May 27, 2026
Berita Game

Game Kereta dari Dev. Indonesia – RUNNING TRAIN Dipuji Media Jepang

May 27, 2026
Berita Game

Menyusul LG, Brand AOC Rilis Monitor 1000Hz dengan Resolusi FHD

May 26, 2026

FIVAGAME.ID

Berita game, tren industri, dan perkembangan dunia gaming

Follow US on Social Media

Facebook Youtube Steam Twitch Unity

Copyright © 2026 fivagame.id, All Rights Reserved.

Partnership

More from Fivagame

  • Berita Game
  • Game Populer
  • Jadwal Esports
  • Tips & Panduan
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?